Tim Medis Laznas Al-Irsyad tiba di pengungsian di Rarampandede, Dolo Barat, Sigi pukul 15:35 WITA. Baru saja tim selesai merapikan posko untuk buka Posko Kesehatan, terlihat dari kejauhan seorang nenek yang menggunakan tongkat sedang berjalan menuju ke arah Posko Kesehatan Laznas Al-Irsyad. Tidak mudah bagi nenek tersebut untuk bisa mencapai posko, Tim medis dengan cepat menyambut dan menuntun nenek ini ke posko kesehatan Laznas Al-Irsyad. Setelah selesai pemeriksaan oleh Tim Medis, seorang dari tim kesehatan di posko bergegas mengantar nenek tersebut pulang ke rumahnya.

Waktu sudah memasuki pukul 16:55 WITA, tetapi salah satu Tim Medis kami yang mengantar nenek tadi belum juga kembali ke Posko. Korlap Laznas Al-Irsyad, Abdullah Elly menunjuk salah satu Timnya untuk segera menghubungi Tina, anggota medis yang tak kunjung kembali ke Posko Kesehatan. Akan tetapi Tina tidak dapat di hubungi.

Beberapa menit kemudian, Tina kembali dengan mata yang memerah, pipihnya basah. Jelas sekali Tina ini baru saja menangis. “Tina kamu kenapa ? Kamu dari mana ? Kenapa menangis?” Tutur Abdullah Elly, selaku Korlap Tim.

 

Tangisnya Tinapun pecah di hadapan anggota tim yang lain.

“Kaaa, aku boleh minta beras gk? Ada seorang nenek, dia tinggal sendiri ka, dia hanya makan bubur. Gak ada yang ngebantu nenek ini ka”  ujar tina, air matanya trus mengalir. Tina tidak bisa menahan air matanya.

Sayangnya logistik sudah mulai habis karena memang telah dibagi-bakikan secara merata di daerah pengungsian sekitar Posko utama Laznas Al Irsyad, yang tersisa hanyalah popok bayi dan makanan bayi.

Berkat usaha tim relawan Laznas Al Irsyad di Palu, akhirnya didapatkanlah beberapa persedian logistik bahan pangan berkat kerjasama dengan lembaga lain.

Kemudian tim bergegas menghampiri rumahnya nenek tadi. Ternyata rumah itu tidak jauh dari lapangan bola yang dipakai itu pengungsian warga. Tenda pengungsi sangat jelas sekali ketika dilihat dari rumah nenek tua itu.

Tibalah dirumah nenek tua itu. Nenek tua itu keluar dari kamarnya.

Ibu Mayria (73th), beliau lahir tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika gempa terjadi, ibu Mayria seorang diri dirumahnya, tetangganya lari larian ke luar rumah. Ibu maria hanya pasrah.

“Saya sudah berusaha kabur, tetapi kaki saya tidak kuat untuk lari, saya hanya pasrah dengan Allah pada saat gempa waktu itu” ujar ibu Mayria.

 

Ketika Tim Laznas Al-Irsyad menanyakan kabar keluarganya, ibu Mayria ini menitiskan air mata. “Anak saya 8 nak, mereka sudah berkeluarga tak ada yang di sini”

Tanpa disadari Tim Relawan kembali larut dalam kesedihan.

 

Ibu Mayria hanya mengkonsumsi bubur dalam sehari, jikiapun ada beras, itupun didapat dari tetangganya yang iba.

 

Tidak bisa memberikan banyak, Logistik sudah menipis stock beras juga sudah kosong. Hanya 2 pak biskuit dan beras 9 ltr untuk saat ini yang bisa diberikan.

Suasana haru nampak menjadi ketika tim relawan memberikan bantuan tersebut. Tidak sampai di situ, tangisan pecah ketika tim relawan Laznas Al Irsyad hendak kembali ke posko. Tim Laznas Al Irsyad memeluk nenek Mayria “ibu maaf kami harus pulang”

 

Akhir, tim kami berkoordinasi dengan pihak yang bertanggungjawab di daerah tersebut, menceritakan mengenai kondisi nenek Mayria di rumahnya.